PENGERTIAN TAREKAT

BAB I
PENDAHULUAN
1. Kenyataan Sejarah
Cikal bakal tasawuf dan tarekat, benih-benih dan dasar ajarannya tak dapat dipungkirisudah ada sejak dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW. Hal ini dapat dilihat dalam perilaku dan peristiwa yang terjadi dalam hidup, dalam ibadah dan dalam pribadi Nabi Muhammad SAW. Cikal bakal itu semuanya berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits.
Cikal bakal inilah yang diteruskan pengamalannya oleh Ahlul Bait, Khulafaur-Rasyidin, para sahabat yang lain, para Ahlus Shufah , para Salafus Shaleh, zaman tabi’in, tabi’it tabi’in sampai dengan zaman muta-akhirin sekarang ini.
Para Sufi dan Syekh-syekh Mursyid dalam tarekat, merumuskan bagaimana sistematika, jalan, cara, dan tingkat –tingkat jalan yang harus dilalui oleh para calon sufi atau muri tarekat secara rohani untuk cepat bertaqarrub, mendekatkan diri kehadirat Allah SWT.
Kenyataan dalam sejarah juga menunjukkan, bahwa peran serta aktif dari para sufi dan para tuan syekh, mursyid, adalah amat besar dalam dakwah islam dan dalam pembinaan umat, tidak hanya dalam bidang ibadah ubudiyah, tetapi meliputi seluruh aspek kehidupan perorangan, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Pendapat yang menyatakan bahwa tasawuf dan tarekat itu menghambat kemajuan atau menyebabkan umat menjadi terbelakang adalah sangat keliru. Kenyataan juga membuktikan, sejak dahulu sampai sekarang, kemajuan pembangunan yang serba canggih buah dari ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), tanpa dikendalikan oleh iman dan taqwa(IMTAQ), tidak hanya mengancam timbulnya kehancuran umat manusia. Dengan kata lain, kemajuan dalam bidang benda material tanpa diimbangi degan kemajuan pembinaan mental spiritual , akan menjurus kepada kehancuran menyeluruh.
2. Tarekat di Indonesia
Seperti diketahui dari sejarah, masuknya tasawuf dan tarekat ke Indonesia bersamaan dengan masuknya islam. Aliran lembaga tarekat yang masuk ke Indonesia bersamaan dengan memuncaknya gerakan tasawuf internasional, seperti Tarekat Khalwatiyah,Syattariyah, Syadziliyah, demikia juga tarekat-tarekat yang lain, yaitu Tarekat Qadiriyah, Rifa’iyah,Idrisiyah, dan yang paling besar dan menyeluruh tersebar di seluruh kepulauan Nusantara adalah tarekat Naqsabandiyah.
BAB II
PEMBAHASAN
TAREKAT DAN PERKEMBANGANNYA
1. Pengertian Tarekat
Asal kata “tarekat” dalam bahasa arab yaitu “thariqah” yang berarti jalan, keadaan, aliran, atau garis pada sesuatu.[1]
Menurut istilah tasawuf, tarekat berarti perjalanan seorang salik (pengikut tarekat) menuju Tuhan dengan cara mensucikan diri atau perjalanan yang harus ditempuh secara rohani, maknawi oleh seseorang untuk dapat mendekatkan diri sedekat mungkin kepada Allah SWT.
Menurut Syekh Amin al-Kurdi tarekat ialah cara mengamalkan syariat dan menghayati inti syariat itu dan menjauhkan diri dari hal-hal yang bisa melalaikan pelaksanaan dan inti serta tujuan syariat.
2. Hubungan Tarekat dengan Tasawuf
Didalam ilmu tasawuf, istilah tarekat tidak saja ditujukan kepada aturan dan cara-cara tertentu yang digunakan oleh seorang syekh tarekat dan bukan pula terhadap kelompok yang menjadi pengikut salah seorang syekh tarekat, tetapi meliputi segala aspek ajaran yang ada didalam agama Islam, seperti shalat, puasa, zakat, haji, dan sebagainya, yang semua itu merupakan jalan atau cara mendekatkan diri kepada Allah.[2]
Sebagaimana telah diketahui bahwa tasawuf itu secara umum adalah usaha mendekatkan diri kepada Allah dengan sedekat mungkin, melalui penyesuaian rohani dan memperbanyak ibadah. Usaha mendekatkan diri ini biasanya dilakukan dibawah bimbimngan seoang guru atau syekh. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa tasawuf adalah usaha mendekatkan diri kepada Allah, sedangkan tarekat adalah cara dan jalan yang ditempuh seseorang dalam usahanya mendekatkan diri kepada Allah. Gambaran ini menunjukkan bahwa tarekat adalah tasawuf yang terlah berkembang dengan beberapa variasi tertentu, sesuai dengan spesifikasi yang diberikan seorang guru kepada muridnya.
3. Sejarah Timbulnya Tarekat
Peralihan tasawuf yang bersifat personal pada tarekat yang bersifat lembaga tidak terlepas dari perkembangan dan perluasan tasawuf itu sendiri. Semakin luas pengaruh tasawuf, semakin banyak pula orang berhasrat mempelajarinya.
Seorang guru tasawuf biasanya memformulasikan suatu sistem pengajaran tasawuf berdasarkan pengalamannya sendiri. Sistem pengajaran itulah yang kemidian menjadi ciri khas bagi suatu tarekat yang membedakannya dari tarekat yang lain.[3] Tarekat adalah organisai dari pengikut sufi-sufi besar. Mereka mendirikan organisasi-organisasi untuk melestarikan ajaran-ajaran tasawuf gurunya. Maka timbullah tarekat. Tarekat ini memakai suatu tempat pusat kegiatan yang disebbut ribat (disebut juga zawiyah, hangkah atau pekir).
Teori lain sejarah kemunculan tarekat dikemukakan oleh Jhon O. Voll. Ia mejelaskan bahwa penjelasan mistis terhadap Islam muncul sejak awal sejarah islam, dan para sufi yang mengembangkan jalan-jalan spiritual personal mereka dengan melibatkan praktik-praktik ibadah, pembacaan kitab suci, dan kepustkaan tentang keshalehan. Para sufi ini kadang-kadang terlibat konflik dengan otoritas-otoritas dalam komunitas islam dan memberikan alternatif terhadap orientasi yang lebih bersifat legalistik, yang disampaikan oleh kebanyakan ulama. Namun, para sufi secara bertahap menjadi figur-figur penting dalam kehidupan keagamaan dikalangan penduduk awam dan mulai mengumpulkan kelompok-kelompok pengikut diidentifikasi dan diikat bersama oleh jalan taswuf khusus (tarekat) sang guru. Mejelang abad ke-12 M (ke-5 H), jalan-jalan ini mulai menyediakan basis bagi kepengikutan yang lebih permanen, dan tarekat-tarekat sufi pun muncul sebagai organisasi sosial utama dalam komunitas islam.[4]
Pada awal kemunculannya, tarekat berkembang dari dua daerah, yaitu Khurasan (Iran) dan Mesopotamia (Irak). Pada priode ini mulai timbul beberapa, diantaranya tarekat Yasafiah yang didirikan oleh Ahmad al-Yasafi (w. 562 H/1169 M), tarekat Khawajagawiyah yang disponsori oleh Abd al-Khaliq al-Ghzudawani (w. 617 H/1220 M), tarekat Naksabandiyah, yang didirikan oleh Muhammad Bahauddin an-Naksabandi al-Awisi al-Bukhari (w. 1389 M) di Turkistan, tarekat Khalwatiyah yang didirikan oleh Umar al-Khalwati (w. 1397 M). Karena banyaknya cabang-cabang tarekat yang timbul dari tiap-tiap tarekat induk, sangat sulit untuk menelusuri sejarah perkembangan tarekat itu se cara sistematis dan konsepsional. Akan tetapi yang jelas sesuai dengan penjelasan Harun Nasution, cabang-cabang itu muncul sebagai akibat tersebarnya alumni suatu tarekat yang mendapat ijazah tarekat dari gurunya untuk membuka perguruan baru sebagai perluasan dari ilmu yang diperolehnya. Alumni tadi meninggalkan ribat gurunya dan membuka ribat baru didaerah lain. Dengan cara ini, dari satu ribat induk kemudian timbul ribat cabang tumbuh ribat ranting dan seterusnya, samapi tarekat itu berkembang keberbagai dunia islam.[5] Namun, ribat-ribat tersebut tetap mempunyai ikatan kerohanian, ketaatan, dan amalan-amalan yang sama dengan syekhnya yang pertama.
Dalam seluruh tarekat terdapat kegiatan ritual sentral yang melibatkan pertemuan-pertemuan kelompok secara teratur untuk melakukan pembacaan do’a, syair dan ayat-ayat pilihan dari Al-Qur’an.
4. Aliran-aliran Tarekat Dalam Islam
  1. Tarekat Qadiriyah
Qadiriyah didirikan oleh Abd Al-Qadir Jailani [470/1077-561/1166] atau quthb al-awiya. Ciri khas dari Tarekat Qadiriyah ini adalah sifatnya yang luwes,tidak sempit sehingga tuan syekh atau Syekh Mursyid yang baru dapat menentukan langkahnya menuju kehadirat Allah SWT guna mendapat keridlaan-Nya. Keluwesan dan kemandirian inilah, yang menyebabkan tarekat ini cepat berkembang di sebagian besar dunia Islam. Terutama di Turki, Yaman, Mesir, India, Suria, Afrika dan termasuk ke Indonesia.
2. Syadziliyah
Tarekat Syadziliyah didirikan oleh Abu Al-Hasan Asy-Syadzili [593/1196-656/1258]. Syadziliyah menyebar luas di sebagian besar Dunia Muslim. Ia diwakili di Afrika Utara teerutama oleh cabang-cabang Fasiyah dan Darqawiyah serta berkembang pesat di Mesir, tempat 14 cabangnya dikenal secara resmi pada tahun 1985.[6]
  1. Tarekat Naqsabandiyah
Tarekat Naqsabandiyah didirikan oleh Muhammad Bahauddin An-Naqsabandi Al-Awisi Al-Bukhari [w. 1389M] di Turkistan. Tarekat ini mempunyai dampak dan pengaruh sangat besar kepada masyarakat muslim di berbagai wilayah yang berbeda-beda. Tarekat ini pertama kali berdiri di Asia Tengah, kemudian meluas ke Turki, Suriah, Afganistan, dan India. Cirri menonjol Tarekat Naksabandiyah adalah : Pertama, mengikuti syariat secara ketat, keseriusan dalam beribadah yang menyebabkan penolakan terhadap musik dan tari, dan lebih menyukai berdzikir dalam hati. Kedua, upaya yang serius dalam memengaruhi kehidupan dan pemikiran golongan penguasa serta mendekati Negara pada agama.
  1. Tarekat Yasafiyah dan Khawajagawiyah
Tarekat Yasafiyah didirikan oleh Ahmad Al-Yasafi [w. 562H/1169M] dan disusul tarekat Khawajagawiyah yang disponsori oleh Abd Al-Khaliq Al-Ghuzdawani [w. 617 H/1220 M]. kedua tarekat ini menganut paham tasawuf Abu Yazid Al-Bustami [w. 425 H/1034 M] dan dilanjutkan oleh Abu Al-Farmadhi [w. 477 H/1084 M].[7] Tarekat Yasafiyah berkembang ke berbagai daerah, antara lain ke Turki.
  1. Tarekat Khalwatiyah
Tarekat ini didirikan oleh Umar Al-Khalatawi [w. 1397 M] dan merupakan salah satu tarekat yang berkembang di berbagai negeri, seperti Turki, Syiria, Mesir, Hijaz, dan Yaman. Di Mesir, tarekat Khalwatiyah didirikan oleh Ibrahim Gulsheini [w. 940 H/1534 M] yang kemudian terbagi kepada beberapa cabang, antara lain tarekat Sammaniyah yang didirikan oleh Muhammad bin Abd Al-Karim As-Samani [1718-1775].
  1. Tarekat Syatariyah
Tarekat ini didirikan oleh Abdullah bin Syattar [w. 1485] dari India. Tarekat ini tidak mementingkan shalat lima waktu, tetapi mementingkan shalat permanen [shalat dhaim]. Adapun dasar tarekat ini adalah martabat tujuh yang sebenarnya tidak begitu erat hubungannya dengan praktik ritualnya.[8]
  1. Tarekat Rifa’iyah
Tarekat ini didirikan oleh Ahmad bin Ali ar-Rifa’I [1106-1182]. Tarekat sufi Sunni ini memainkan peranan penting dalam pelembagaan sufisme. Dari segala praktik kaum Rifa’iyah, dzikir mereka yang khas patut dicatat.
  1. Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah
Tarekat ini merupakan gabungan dari dua ajaran tarekat, yaitu Qadiriyah dan Naqsabandiyah. Tarekat ini didirikan oleh Ahmad Khatib Sambas yang bermukim dan mengajar di Mekkah pada pertengahan abad ke-19. Tarekat ini merupakan yang paling berpengaruh dan tersebar secara melua di Jawa saat ini.[9]
  1. Tarekat Sammaniyah
Tarekat ini didirikan oleh Muhammad bin ‘Abd Al-Karim Al-Madani Asy-Syafi’I As- Samman [1130-1189/1718-1775]. Hal menarik dari tarekat ini yang menjadi ciri khasnya adalah corak wahdat al-wujud yang dianut dan syathahat yang terucap olehnya tidak bertentangan dengan syariat.
  1. Tarekat Tijaniyah
Tarekat Tijaniyah didirikan oleh Syekh Ahmad bin Muhammad At-Tijani [1150-1230 H/1737-1815 M]. Bentuk amalan tarekat Tijaniyah terdiri dari dua jenis,yaitu wirid wajibah dan wirid ikhtiyariyah.
  1. Tarekat Chistiyah
Chistiyah adalah salah satu tarekat sufi utama di Asia Selatan. Tarekat ini meyebar ke seluruh kawasan yang kini merupakan wilayah India, Pakista dan Banglades. Namun, tarekat ini hanya terkenal di India. Pendiri tarekat ini di India adalah Khwajah Mu’in Ad-Din Hasan, yang lebih populer dengan panggilan Mu’in Ad-Din Chisti.
  1. Tarekat Mawlawiyah
Nama Mawlawiyah berasal dari kata “mawlana” [guru kami], yaitu gelar yang diberikan murid-muridnya kepada Muhammad Jalal Ad-Din Ar-Rumi [w. 1273]. Oleh karena itu, Rumi adalah pendiri tarekat ini, yang didirikan sekitar 15 tahun terakhir hidup Rumi. Salah satu mursyid sekaligus wakil yang terkenal secara internasional dari tarekat ini adalah Syekh Al-Kabir Helminski yang bermarkas di California, Amerika Serikat.[10]
  1. Tarekat Ni’matullahi
Tarekat Ni’matullahi adalah suatu mazhab sufi Persia yang segera setelah berdirinya dan mulai berjaya pada abad ke-8-14 mengalihkan loyalitasnya kepada Syi’I Islam. Tarekat ini didirikan oleh Syekh Ni’matullahi Wal. Tarekat ini secara khusus menekankan pengabdian dalam pondok sufi itu sendiri.
  1. Tarekat Sanusiyah
Tarekat ini didirikan oleh Sayyid Muhammad bin ‘Ali As-Sanusi. Dalam tarekat ini, dzikir bisa dilakukan bersama-sama atau sendirian. Tujuan dzikir itu lebih dimaksudkan untuk “melihat Nabi” ketimbang “melihat Tuhan”, sehingga tidak dikenal “keadaan ekstatis”’ sebagaimana yang ada pada tarekat lain.
Di samping tarekat-tarekat diatas, ada pula tarekat lokal yang didirikan di Indonesia diantaranya : [11]
  1. Tarekat Akmaliyah [Hakmiyah]
Didirikan oleh Kyai Nurhakim. Ia dikenal sebagai dukun dan tukang jimat.
  1. Tarekat Shiddiqiyah
Didirikan oleh Kyai Mukhtar Mukti di Losari Plodo [Jombang] pada tahun 1958. Ia dikenal sebagai dukun yang sakti sehingga banyak pengikutnya dari kalangan penderita penyakit kronis dan bekas pecandu minuman.
  1. Tarekat Wahidiyah
Didirikan oleh Kyai Majid Ma’ruf dari Kedunglo[Kediri] pada tahun 1963.
Tarekat-tarekat yang ajaran-ajarannya sesuai dengan doktrin Islam [Al-Qur’an dan AsSunnah] dikelompokkan ke dalam tarekat yang muktabarah. Sebaliknya, tarekat-tarekat yang ajaran-ajarannya bertentangan dengan doktrin Islam dikelompokkan ke dalam tarekat ghair muktabarah. Menurut Syekh Jalaluddin sebagaimana dikutip ole Aboe Bakar Atjeh, ada 41 jenis tarekat yang masuk ke dalam tarekat muktabarah, diantaranya Qadiriyah, Naqsabandiyah, Syadziliyah, Rifa’iyah, Qubrawiyah, Suhrawardiyah, Khalwatiyah, Alawiyah, Syatariyah, Aidrusiyah, Sammaniyah, dan Sanusiyah. Di luar yang 41 macam tersebut dipandang sebagai tarekat ghair muktabarah yang tidak diakui kebenarannya seperti tarekat Akmaliyah, Siddiqiyah, dan Wahidiyah.
Walaupun bermacam-macam, ternyatatarekat-tarekat yang beragam itu memiliki kesamaan tertentu. Dalam kaitan ini, Nicholson mengungkapkan hasil penelitiannya, bahwa sistem hidup bersih dan bersahaja [zuhd] adalah dasar semua tarekat yang berbeda-beda itu. Semua pengikut dididik dalam disipin itu, dan pada umumnya tarekat-tarekat tersebut walupun beragam namanya dan metodenya ada cirri yang menyamakannya.
Dari sisem dan metode tersebut, Nicholson menyimpulkan bahwa tarekat-tarekat sufi merupakan bentuk kelembagaan yang terorganisasi untuk membina suatu pendidikan moral dan solidaritas social. Sasaran akhir dari pembinaan pribadi dalam pola hidup bertasawuf adalah hidup bersih, bersahaja, tekun beribadah kepada Allah, membimbing masyarakat ke arah yang diridai Allah, dengan jalan pengamalan syariat dan penghayatan haqiqah dalam sistem/metode thariqah untuk mencapai makrifat. Apa yang dimaksud dengan makrifat dalam tema mereka adalah penghayatan puncak pengenalan keesaan Allah dalam wujud semesta dan wujud dirinya sendiri. Pada titik pengenalan ini akan terpadu makna tawakkal dalam tauhid, yang melahirkan sikap pasrah total kepada Allah, dan melepaskan dirinya dari ketergantungan mutlak kepada sesuatu selain Allah.
BAB III
KESIMPULAN
Tarekat adalah perjalanan seorang salik (pengikut tarekat) menuju Tuhan dengan cara mensucikan diri atau perjalanan yang harus ditempuh secara rohani, maknawi oleh seseorang untuk dapat mendekatkan diri sedekat mungkin kepada Allah SWT.
Tarekat-tarekat dalam Islam :
  1. Tarekat Qadiriyah
  2. Tarekat Syadziliyah
  3. Tarekat Naqsabandiyah
  4. Tarekat Yasafiyah dan Khawajagawiyah
  5. Tarekat Khalwatiyah
  6. Tarekat Syatariyah
  7. Tarekat Rifa’iyah
  8. Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah
  9. Tarekat Sammaniyah
  10. Tarekat Tijaniyah
  11. Tarekat Chistiyah
  12. Tarekat Mawlawiyah
  13. Tarekat Ni’matullahi
  14. Tarekat Sanusiyah


[1] Luis Makluf, al-Mujid fi al-Lughat wa al-A’lam, Dar al-Masyriq, Beirut, 1986, hlm. 465
[2] Proyek Pembinaan Pergiruan Tinggi Agama Sumatera Utara, Pengantar Ilmu Tasawuf, 1981/1982, hlm. 273
[3] Ibid
[4] Jhon O. Voll, “Tarekat-Tarekat Sufi ”., hlm. 215
[5] Harun Nasution, “Perkembangan Ilmu Tasawuf di Dunia Islam ” Dalam Orientasi Pengembangan Ilmu Tasawuf, Proyek Pembinaan Prasarana Dan Saran Perguruan Tinggi Agama Islam/IAIN di Jakarta Ditb. baga Depag RI, 1986, hlm. 24
[6] Moh. Ardani, “ Tarekat Syadziliyah : Terkenal dengan Variasi Hizb-nya “, dalam Sri Mulyati (et.al ), Tarekat-Tarekat…., hlm.57.
[7] Trimingham, The Sufi Orders…, hlm. 58-64; Wiwi Siti Sajaroh, “Tarekat Naqsabandiyah: Menjalani Hubungan Harmonis dengan Kalangan Penguasa’, dalam John L. Esposito, Ensiklopedi Oxford…, hlm.91.
[8] Sopa, “Tarekat di Indonesia:, makalah di Pascasarjana IAIN SAyarif Hidayatullah, Jakarta, 1996, hlm.10.
[9] Sopa, “Tarekat di Indonesia”, hlm.11.
[10] Mulyadi Kartanegara, “Tarekat Mawlawiyah : TYarekat Kelahiran Turki”, dalam ibid., hlm.321.
[11] Sopa, “Tarekat di Indonesia”, hlm. 12-13.

29 komentar:

Cerita Sufi mengatakan...

Nice article gan. semoga allah menyempurnakan perjalan Ilahi anda dan saya.
Silakan mampir di mari ya...

jamal mengatakan...

Cerita Sufi : Amiiiin fa Insya Allah

jamal mengatakan...

Cerita Sufi : Amiiiin fa Insya Allah

jamal mengatakan...

Cerita Sufi : Amiiiin fa Insya Allah

Dayat Putra Bahari mengatakan...

Kebanyaka para pengikut Tarekat tsb. Khusyu' dlm ibadah Shalat n Dzikir, namun untuk mnutupi aurat msh bnyak yg blum pas..krna msh bnyak yg blum bsa mnutupi auratnya ketika dlm khidupn brmasyarakat, wktu ada acra keagamaan sja bru mnutupi auratnya (Tidak smua, tp bnyak)..Knyataan baik laki2, Prempuan,Seorang Suami+Ayah (hrus mnegur Istri+Anakx yg tdk mnutupi Auratnya)..
Eman2 sdh kadung ikut jln yg bnar, sklian pnampilan dibenarkan (Aurat, Wajib)..

Agus Makmun mengatakan...

Assalaamualaikum
Sekedar Sharing saja, bukan membela apalagi mencela,..Dalam kitab Tanwirul Qulub..di sebutkan bahwa qolongan Abu Bakar Ash-shiddiq samapi Abu Yazid Bistami di sebut Golongan Shiddiqiyyah. Jika Anda berani menulis jika Akmaliyah, shiddiqiyyah dan wahidiyah tidak muktabaroh,..apa dasar yang anda pakai? Apakah sudah ada penyelidikan mendalam tentang itu...? Dan sekarang, JATMAN dan JATMI sudah menyatakan shiddiqiyyah muktabaroh...liat keputusan JATMAN dan JATMI dalam konggres terakhir..?
Tolong konfirmasinya. Agar tulisan saudara yang bagus ini tdk menjadi fitnah..Terima kasih.
Wassalaamualaikum.

Am

Jamal mengatakan...

@ Agus Makmun : Waalaikum salam...terima kasih koreksinya, dan terima ksih juga kritiknya, adapun dasar-kami menulis sebagaimana tersebut diatas sumber-sumbernya sudah saya sebutkan, adapun dasar yang kami pakai seandainya menyinggung atau mejadikan pembaca kurang nyaman, maka penulis mohon maaf lahir batin, untuk menjadikan pelajaran yang sangat berharga dalam membuat posting yang kami sampaikan ke rekan-rekan semua. Sekalilagi penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Jamal mengatakan...

@ Dayat Putra :Terima kasih udah memberikan tanggapan dan kritikan, merupakan PR bagi kita semua untuk menyelamatkan diri kita dan keluarga kita dari Api Neraka, semoga kita bisa membawa keluarga kita menjadi keluarga besar Islam yang Kaffah

ibrahim mengatakan...

banyak tarikat yg tidak di terima olih Allah SWT.Kita kena berhati hati memilih cari lah guru murshid?

Hikmah Kemang mengatakan...

izin copy y bwt bca2

Hikmah Kemang mengatakan...

thx bgs bngt..izin copy bwt bca2//:)

Jamal mengatakan...

@ Ibrahim : Carilah Mursyid Kamil mukammil...Insya Allahpasti jalan kebenaran yang diajarkan dan diamalkannya.

Jamal mengatakan...

@ Hikmah Kemang : Monggo silahkan di copy...dan semoga bermanfa'at

irwaneris alfaisyal mengatakan...

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُ
,,,,,, Setelah saya membaca semua artiket tentang tarekat di atas,,,, saya jadi bingung,,,,, tapi alangkah lebih baik kita mempelajari al_qur'an dan as_sunnah saja,,,,,,, karna ajaran, cara ibadah,dan lain sebagai, dalam al_qur'an sudah dijelaskan,,,, kenapa lagi kita harus beginian,,,,, namun yang terbanyak kita lihat realita di tengah masyarakat,mereka2 yang mengaku pengikut tarekat, pada umum nya mereka jauh dari nilai nilai luhur agama yang hanif ini,,,, teramat banyak yang melenceng,,,,wallahu a'lam bisawabb,,,,,وَعَلَيْكُم سلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ mohon maaf sebesar2nya, jika pandangan saya ini keliru,,,,

lelanange jagad mengatakan...

toreqot kan ibarat jalan..... terserah kita mau lewat yg mana? gari biso milah..

ardi les mengatakan...

thank's.

Anonim mengatakan...

Udh jelas jalannya ya spt yg dicontohkan rasulullah..cukup titik

MUSTOFA AFIFI mengatakan...

saya merasa senang dgan ada.nya kumpulan buku"ini,,,,
thanks,,

Bouer Sasak mengatakan...

tarekat,tanpa syari,at sia sia

Bouer Sasak mengatakan...

Buat saya sih,tarekat apapun namanya..g masalah,asal menjalankan syari,atnya juga...kan yg pertama tama di pertanggung jawabkan di aherat solat 5waktu...baru amal ibadah kta..namun klu rukun sholat kta tdk kerjakan...amal ibadah akan sia sia blaka..wassalam,kurang dan lebhnya mohon maaf

dr.rizqi mengatakan...

menurut saya, semuanya penting, asal jangan lari dari syariat, kan yg di hisap sholatnya.. perbaiki .

KERINCI DALAM BERITA mengatakan...

benar,,,kita harus mempelajari al-qur'an dan sunah tapi bacalah dan renungilah apa yang dikatakan al-qur'an dan sunah dan tidak sekedar hanya baca ayat tanpa arti yang menyebabkan al-qur'an tidak menjadi petunjuk bagi kita..(jangan asal dengar2 lalu lalu cerita),,,,,!!! ingat lawan & doktrin bisa memotong2 ayat untuk kepentingan politik & kelompok,,,!!!

blok mengatakan...

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُ
gan... berikan dong ayat2 Al-Qur'an maupun Hadist yang menyangkut Tarekat.. jangan cuma asal ngomong doang..
kalo gitu kenapa Nabi Muhammad tdk mengajarkan kepada kaumnya..? kalo memang diajarkan mana Hadist-hadistnya..?????

fero irawan mengatakan...

saya setuju..kita harus belajar mulai skrng..dan yg kita pelajari haruslah yg benar2 bisa menuntun kita setelah kita di akhirat kelak..karena hidup adalah kekal

AL Kasmang mengatakan...

Allah tidak pernah bikin susah hambanya untuk beribadah kenapa ko repot2 jadikan Al quran sebagai pedoman dan hadist untuk menjalankanya untuk menuju nur ALLAh

Aful mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Aful mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Aful mengatakan...

Bismillahi-Rahmani-Rahim

4 PILAR

Syariat (Islam) - Tarikat - Hakekat - Makrifat

Tarikat Tanpa Syariat (Islam) Akan Linglung
Hakekat Tanpa Syariat (Islam) Akan Pincang
Makrifat Tanpa Syariat (Islam) Tidak Bakalan Bisa Kecuali Izin ALLAH
Pondasinya Syariat (Islam) Insya Allah Berkah,,,

Maaf Kalau Ada Kata Yang Salah,,, Mohon diluruskan,,,

Anonim mengatakan...

Dari Abu Hurairah R.A. dan Sayyidina Ali R.A.,
Sabda Nabi S.A.W.: "Bermula syariat itu beberapa
perkataanku dan bermula tarikat itu beberapa
perbuatanku (amalanku) dan bermula hakikat itu
beberapa hal ku (pendirianku) dan makrifat itu
kepala hartaku (hasil perolehanku)"
Sabda Nabi S.A.W. lagi: “Syariat ialah kata-kataku
(aqwali), tarekat ialah perbuatanku (a`mali) dan
hakikat (haqiqah) ialah keadaan batinku (ahwali),
Ketiganya saling terkait dan tergantung

Poskan Komentar

Tinggalkan sepatah dua patah kata untuk sarana meneliti tulisanku, kritik, saran ataupun cemoohan juga boleh

JALAN WALI ALLAH © 2008. Design by :Yanku Templates Sponsored by: Tutorial87 Commentcute