SEKILAS TAREKAT QADIRIYAH WA NAQSYABANDIYAH

PENDAHULUAN
Menurut Harun Nasution, tarekat adalah jalan yang harus ditempuh seorang murid agar berada sedekat mungkin dengan Tuhan di bawah bimbingan seorang guru Mursyid. Tarekat mencoba memberi rasa aman dan kesejahteraan di kehidupan akhirat kepada para pengikutnya, setelah mereka merasa bahwa kehidupan mereka di dunia sudah mendekati akhir. Di samping itu tarekat berusaha membuka pintu Surga bagi publik. Tarekat adalah jalan untuk memastikan kesamaan peluang untuk masuk Surga bagi semua lapisan masyarakat, baik yang alim, awam, kaya atau pun miskin.
Ruh sebelum masuk ke tubuh memag suci, tetapi setelah bersatu dengan tubuh sering kali menjadi kotor karena digoda hawa nafsu. Maka agar dapat mendekatkan diri pada Tuhan yang Maha Suci, ruh manusia harus terlebih dahulu disucikan. Sufi-sufi besar kemudian merintis jalan sebagai media untuk penyucian jiwa yang dikenal dengan nama thariqat (jalan).

Para ahli mistik dalam berbagai tradisi keagamaan cenderung menggambarkan langkah-langkah yang membawa kepada kehadirat Tuhan sebagai jalan. Pembagian 3 (tiga) jalan dalam agama Islam menjadi Syariat,Tarekat dan Hakikat. Jalan tri tunggal kepada Allah dijelaskan dalam suatu hadis Rasulullah SAW. sebagai berikut : “Syariat adalah perkataanku (aqwali), tarekat adalah perbuatanku (Ahwali), dan hakikat adalah keadaan batinku (Ahwali)." (anemari h. 123)

Tarekat adalah jalan yang harus ditempuh para sufi, dan digambarkan sebagai jalan yang berpangkal dari syariat, sebab jalan utama disebut Syar sedang anak jalanan disebut thariq. Kata turunan ini menunjukkan bahwa menurut anggapan para sufi, pendidikan mistik merupakan cabang dari jalan utama yang terdiri atas hukum Ilahi, tempat berpijak bagi setiap Muslim. Tak mungkin ada jalan tanpa adanya jalan utama tempat ia berpangkal.

Pengalaman mistik tak mungkin didapat bila perintah Syariat yang mengikat itu tidak ditaati terlebih dahulu dengan seksama. Akan tetapi tariq atau jalan itu lebih sempit dan lebih sulit dijalani serta membawa salik (orang yang menempuh jalan sufi) sampai secepat mungkin mencapai tujuan yaitu tauhid sempurna berupa pengakuan berdasarkan pengalaman bahwa Tuhan adalah satu.

Di antara berbagai macam tarekat yang ada terdapat tarekat yang bernama Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah merupakan penggabungan dari dua Tarekat besar yaitu Tarekat Qadiriyah dan Tarekat Naqsyabandiyah. Penggabungan kedua tarekat ini dimodifikasi sedemikan rupa, sehingga terbentuk sebuah Tarekat yang mandiri dan berbeda dengan kedua tarekat induknya. Jadi tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah yang ada di Indonesia merupakan tarekat yang mandiri yang di dalamnya terdapat unsur-unsur Qadiriyah dan Naqsyabandiyah.

ASAL USUL GERAKAN TAREKAT QADIRIYAH WA NAQSYABANDIYAH
Jika ditelaah secara sosiologis yang lebih mendalam, lahirnya tarekat lebih dipengaruhi oleh kondisi sosio-kultur yang ada pada saat itu. Lahirnya trend pola hidup sufistik tidak lepas dari perubahan dan dinamika dalam kehidupan masyarakat. Sebagai contoh adalah munculnya gerakan kehidupan zuhud dan uzlah yang dipelopori oleh Hasan al-Basri (110 H) dan Ibrahim Ibn Adham (159 H). Gerakan ini muncul sebagai reaksi terhadap pola hidup hedonistik (berfoya-foya) yang dipraktekkan oleh pejabat Bani Umayyah.

Hasan al-Basri termasuk pendiri madzhab Basrah yang beraliran zuhud. Pendirian hidup dan pengalaman tasawuf Hasan al- Basri itu dijadikan pedoman bagi ahli tasawuf. Pandangan tasawuf Hasan al-Basri di antaranya pandangan dia terhadap dunia yang diibaratkan sebagai ular yang halus dalam pegangan tangan tetapi racunnya membawa maut.

Setidaknya ada 2 (dua) faktor yang menyebabkan lahirnya gerakan tarekat pada masa itu, yaitu faktor kultural dan struktural. Dari segi politik, dunia Islam sedang dilanda krisis hebat. Di bagian timur dunia Islam seperti : wilayah Palestina, Syiria, dan Mesir menghadapi serangan orang-orang Kristen Eropa, yang dikenal dengan Perang Salib selama lebih kurang dua abad (490-656 H / 1096-1248 M) telah terjadi delapan kali peperangan yang dahsyat.

Di bagian timur, dunia Islam menghadapi serangan Mongol yang haus darah dan kekuasaan. Ia melalap setiap wilayah jarahnya. Demikian juga di Baghdad yang merupakan pusat kekuasaan dan peradaban Islam. Situasi politik tidak menentu, karena selalu terjadi perebutan kekuasaan di antara dinasti-dinasti Turki. Keadaan ini menjadi sempurna keburukannya dengan penghancuran kota Baghdad oleh Hulaqu Khan.

Dalam situasi seperti itu, wajarlah kalau umat Islam berusaha mempertahankan agamanya dengan berpegang pada doktrin yang dapat menentramkan jiwanya dan menjalin hubungan damai dengan sesama muslim dalam kehidupan.

Umat Islam memiliki warisan kultural dari para Ulama sebelumnya yang dapat digunakan terutama di bidang tasawuf, yang merupakan aspek kultural yang ikut membidangi lahirnya tarekat-tarekat pada masa itu. Misalnya Abu Hamid al- Ghazali (wafat 505 H / 1111 M) dengan karyanya yang monumental : Ihya Ulum al- Din (menghidupkan ilmu-ilmu agama) telah memberikan pedoman tasawuf secara praktis yang kemudian diikuti oleh tokoh-tokoh sufi berikutnya seperti Syekh Abd al- Qadir al- Jailani yang merupakan pendiri Tarekat Qadiriyah.

Mula-mula tarekat hanya berarti jalan menuju Tuhan yang ditempuh seorang sufi secara individual. Akan tetapi, kemudian sufi-sufi besar mengajarkan tarekat-nya kepada murid baik secara individual maupun secara berkelompok. Dengan demikian tarekat pun berarti jalan menuju Tuhan di bawah bimbingan guru. Selanjutnya mereka melakukan latihan bersama di bawah bimbingan guru. Inilah asal pengertian tarekat sebagai nama sebuah organisasi sufi.

Pada dasarnya munculnya banyak tarekat dalam Islam secara garis besarnya sama dengan latar belakang munculnya banyak mazhab dalam fiqih dan firqah dalam kalam. Di dalam fiqih berkembang mazhab-mazhab seperti : mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hambali, Zahiri, dan Syi’i.

Di dalam kalam juga berkembang firqah-firqah, seperti: Khawarij, Murji’ah, Mu’tazilah, asy’ariyah, dan Maturidiyah. Sementara mazhab dalam tasawuf disebut tarekat. Bahkan tarekat dalam tasawuf jumlahnya jauh lebih banyak dari pada mazhab dalam fiqih maupun firqah dalam kalam.

Di Indonesia terkenal sebuah Tarekat bernama Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Tarekat ini merupakan tarekat terbesar, terutama di pulau Jawa. Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah yang ada di Indonesia didirikan oleh sufi dan Syekh besar masjid al-Haram Mekah al- Mukaramah. Ia bernama Ahmad Khatib Sambas ibn Abd Ghaffar al- Sambasi al-Jawi. Ia wafat di Mekah pada tahun 1878 M. Beliau adalah seorang ulama besar dari Indonesia yang tinggal sampai akhir hayatnya di Mekah. Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah, merupakan gabungan dari dua tarekat yang berbeda yaitu Tarekat Qadiriyah dan Tarekat Naqsyabandiyah. Tarekat Qadiriyah didirikan oleh Syekh Abd al-Qadir al-Jailani (W. 561/1166 M). Syekh Abd al-Qadir al-Jailani selalu menyeru kepada murid-muridnya agar bekerja keras dalam kehidupan sebagai bekal untuk memperkuat ibadah yang dihasilkan dari hasil keringat sendiri. Ia juga melarang kepada muridnya menggantungkan hidup kepada masyarakat. Al-Jailani juga mengingatkan kepada pengikut tarekat agar tetap perpegang pada Sunah Rasulullah dan Syari’at agama Islam. Dia juga mengingatkan bahwa setan banyak menyesatkan ahli tarekat dengan menggodanya agar meninggalkan syari’at karena sudah melaksanakan tarekatnya.

Tarekat Qadiriyah terus meluas jaringannya hampir ke seluruh negeri Islam termasuk Indonesia. Bahkan manaqib (sejarah kelahiran dan sejarah keistimewaanya), kini senantiasa mewarnai prosesi ritual Islamiyah di daerah jawa setidak-tidaknya nama pendiri tarekat ini selalu disebut dalam prosesi ritual. Ini menunjukan betapa lestarinya ajaran yang dikembangkan oleh sebuah institusi tarekat.

Sedangkan Tarekat Naqsyabandiyah didirikan oleh Muhammad ibn Muhammad Bahauddin al-Naqsyabandi yang hidup antara tahun 717-791 H./ 1317-1389 M. Ia dilahirkan di desa yang bernama Qashrul Arifin yang terletak beberapa kilometer dari kota Bukhara, Rusia.

Kedua tarekat tersebut kemudian dimodifikasi oleh Syekh Khatib Sambas. Sebagai seorang yang alim dan ma’rifat kepada Allah, Syekh Khatib Sambas memiliki otoritas untuk membuat modifikasi tersendiri bagi tarekat yang dipimpinnya karena dalam Tarekat Qadiriyah memang ada kebebasan untuk memodifikasi bagi yang telah mencapai derajat mursyid. Dalam Tarekat Qadiriyah apabila seorang murid telah mencapai derajat syekh seperti gurunya, ia tidak diharuskan untuk selalu mengikuti tarekat gurunya. Seorang syekh Tarekat Qadiriyah berhak untuk tetap mengikuti tarekat guru sebelumnya atau memodifikasi tarekat yang lain ke dalam tarekatnya. Hal ini karena ada petuah dari Syekh Abdul Qadir al- Jailani bahwa murid yang telah mencapai derajat gurunya, maka ia jadi mandiri sebagai syekh dan Allah lah yang menjadi walinya untuk seterusnya.

Syekh Khatib Sambas sangat berjasa dalam menyebarkan tarekat ini di Indonesia dan Melayu hingga wafat. Di Mekah ia juga menjadi guru sebagian ulama Indonesia modern dan mendapatkan ijazah. Sekembalinya ke Indonesia ia menjadi guru tarekat dan mengajarkannya sehingga tarekat ini tersebar luas di seluruh Indonesia, diantaranya Syekh Nawawi al-Bantani (wafat 1887 M), Syekh Halil (w. 1918 M), Syekh Mahfuzd Attarmasi (w. 1923 M), dan Syekh M. Hasyim Asy’ari pendiri NU di Indonesia. Semuanya merupakan murid Syekh Khatib Sambas. Ketokohan Syekh Khatib Sambas yang menonjol adalah di bidang tasawuf. Beliau sebagai pemimpin atau mursyid tarekat Qadiriyah yang berpusat di Mekah pada waktu itu. Di samping itu beliau juga sebagai mursyid tarekat Naqsyabandiyah.

Pada masanya telah ada pusat penyebaran Tarekat Naqsyabandiyah di kota suci Mekah dan Madinah sehingga sangat memungkinkan ia mendapat baiat tarekat Naqsyabandiyah dari kemursyidan tersebut. Kemudian ia menggabungkan inti kedua ajaran tarekat tersebut, yaitu Tarekat Qadiriyah dan Tarekat Naqsyabandiyah dan mengajarkan pada murid-muridnya terutama yang berasal dari Indonesia. Penamaan Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah tidak lepas dari sikap tawadu dan ta’zim Syekh Khatib Sambas kepada pendiri kedua tarekat tersebut sehingga beliau tidak menisbatkan nama tarekatnya pada dirinya sendiri. Padahal kalau melihat modifikasi ajarannya dan tata cara ritual tarekatnya itu, lebih tepat kalau dinamakan dengan Tarekat Khatibiyah atau Tarekat Sambasiyah, karena memang tarekatnya merupakan buah dari ijtihadnya.

Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah yang terdapat di Indonesia bukanlah hanya merupakan suatu penggabungan dari dua tarekat yang berbeda yang diamalkan bersama-sama. Tarekat ini menjadi sebuah tarekat yang baru dan berdiri-sendiri, yang di dalamnya unsur-unsur pilihan dari Qadiriyah dan Naqsyabandiyah telah dipadukan menjadi sesuatu yang baru. Penggabungan inti dari kedua ajaran ini atas dasar pertimbangan logis dan strategis bahwa kedua ajaran inti itu bersikap saling melengkapi terutama dalam hal jenis dzikir dan metodenya.

Tarekat Qadiriyah menekankan ajarannya pada dzikir jahr nafi isbat yaitu melafadkan kalimat lailahailalah dengan suara keras, sedangkan Tarekat Naqsyabandiyah menekankan pada dzikir siri ismu dzat yaitu melafadkan kalimat Allah dalam hati.

Penyebaran Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah diperkirakan sejak paruh kedua abad ke-19, yaitu semenjak tibanya kembali murid-murid Syekh Khatib Sambas ke tanah air. Di Kalimantan Barat, daerah asal Syekh Khatib Sambas, tarekat ini disebarkan oleh kedua orang muridnya yaitu Syekh Nuruddin yang berasal dari Pilipina dan Syekh Muhammad Sa’ad putra asli Sambas. Karena penyebaran tidak melalui lembaga formal seperti pesantren maka tarekat hanya tersebar dikalangan orang awam dan tidak mendapatkan perkembangan yang berarti.

Lain halnya di pulau Jawa tarekat ini disebarkan melalui pondok pesantren yang didirikan dan dipimpin oleh para pengikutnya sehingga mengalami kemajuan yang pesat. Penyebaran tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah di Jawa dilakukan oleh 3 (tiga) murid Syekh Khatib Sambas, yaitu Syekh Abdul Karim Banten, Syekh Tholhah Cirebon, dan Kyai Ahmad Hasbullah Madura. Syekh Abdul Karim Banten merupakan murid kesayangan Syekh Ahmad Khatib Sambas di Mekah. Semula dia hanya sebagai khalifah Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah di Banten, tahun 1876 diangkat oleh Syeikh Khatib Sambas menjadi penggantinya dalam kedudukan sebagai mursyid utama tarekat ini yang berkedudukan di Mekah. Dengan demikian semenjak itu seluruh organisasi TQN di Indonesia menelusuri jalur spiritualnya (silsilah) kepada ulama asal Banten tersebut.

Khalifah dari Kyai Tholhah Cirebon yang paling penting adalah Abdullah Mubarrok, belakangan dikenal sebagai Abah Sepuh. Abdullah melakukan baiat ulang dengan Abdul Karim Banten di Mekah. Pada dekade berikutnya Abah sepuh membaiat putranya K.H.A. Sohibul Wafa Tadjul Arifin yang lebih masyhur dengan panggilan Abah Anom. Hingga sekarang Abah Anom Masih menjadi mursyid tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah.

Di bawah kepemimpinan Abah Anom ini, tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah di kemursyidan Suryalaya berkembang pesat. Dengan menggunakan metode riyadah dalam tarekat ini Abah Anom mengembangkan psikoterapi alternatif, terutama bagi para remaja yang mengalami degradasi mental karena penyalahgunaan obat-obat yang terlarang, seperti, morfin, heroin dan sebagainya.

Sampai sekarang di Indonesia ada 3 (tiga) pondok pesantren yang menjadi pusat penyebaran Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah yaitu :
  1. Pondok Pesantren Rejoso, Jombang - Jawa Timur,
  2. Pondok Pesantren Mranggen, Jawa Tengah,
  3. Pondok Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya - Jawa Barat.
POKOK-POKOK AJARAN TAREKAT QADIRIYAH WA NAQSABANDIYAH
Sebagai suatu madzhab dalam tasawuf, Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah memiliki beberapa ajaran yang diyakini akan kebenarannya, terutama dalam kehidupan kesufian. Ada beberapa ajaran yang diyakini paling efektif dan efesian sebagai metode untuk mendekatkan diri dengan Allah. Pada umumnya metode yang menjadi ajaran dalam tarekat ini didasarkan pada al-Qur’an, Hadis, dan perkataan para sufi.

Ada beberapa pokok ajaran dalam Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah di antaranya ajaran tentang :
  1. KESEMPURNAAN SULUK,
  2. ADAB KEPADA PARA MURSYID,
  3. DZIKIR.
1. KESEMPURNAAN SULUK, Ajaran yang sangat ditekankan dalam Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah adalah suatu keyakinan bahwa kesempurnaan suluk (merambah jalan kesufian dalam rangka mendekatkan diri dengan Allah), adalah jika berada dalam 3 (tiga) dimensi keimanan, yaitu : Islam, Iman, dan Ikhsan. Ketiga term tersebut biasanya dikemas dalam satu jalan three in one yang sangat populer dengan istilah syariat, tarekat,dan hakikat .

Syariat adalah dimensi perundang-undangan dalam Islam. Ia merupakan ketentuan yang telah ditentukan oleh Allah, melalui Rasul-Nya Muhammad SAW. baik yang berupa perintah maupun larangan. Tarekat merupakan dimensi pelaksanaan syari’at tersebut. Sedangkan hakikat adalah dimensi penghayatan dalam mengamalkan tarekat tersebut, dengan penghayatan atas pengalaman syari’at itulah, maka seseorang akan mendapatkan manisnya iman yang disebut dengan ma’rifat.

Para sufi menggambarkan hakikat suluk sebagai upaya mencari mutiara yang ada di dasar lautan yang dalam. Sehingga ketiga hal itu (syari’at, tarekat, dan hakikat) menjadi mutlak penting karena berada dalam satu sistem. Syariat digambarkan sebagai kapal yang berfungsi sebagai alat transportasi untuk sampai ke tujuan. Tarekat sebagai lautan yang luas dan tempat adanya mutiara. Sedangkan hakikat adalah mutiara yang dicari-cari. Mutiara yang dicari oleh para sufi adalah ma’rifat kepada Allah. Orang tidak akan mendapatkan mutiara tanpa menggunakan kapal.

Dalam Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah diajarkan bahwa tarekat diamalkan justru dalam rangka menguatkan syari’at. Karena bertarekat dengan mengabaikan syariat ibarat bermain di luar sistem, sehingga tidak akan dapat mendapatkan sesuatu kecuali kesia-siaan.

Ajaran tentang prinsip kesempurnaan suluk merupakan ajaran yang selalu ditekankan oleh pendiri tarekat Qadiriyah, yaitu Syekh Abdul Qadir al-Jailani, hal ini dapat dimaklumi, karena beliau seorang sufi sunni dan sekaligus ulama fiqih.

2. ADAB KEPADA PARA MURSYID, Adab kepada mursyid (syekh), merupakan ajaran yang sangat prinsip dalam tarekat. Adab atau etika murid dengan mursyidnya diatur sedemikian rupa sehingga menyerupai adab para sahabat terhadap Nabi Muhammad SAW. Hal ini diyakini karena muasyarah (pergaulan) antara murid dengan mursyid melestarikan sunnah (tradisi) yang dilakukan pada masa nabi. Kedudukan murid menempati peran sahabat sedang kedudukan mursyid menempati peran nabi dalam hal irsyad (bimbingan) dan ta’lim (pengajaran).

Seorang murid harus menghormati syekhnya lahir dan batin. Dia harus yakin bahwa maksudnya tidak akan tercapai melainkan ditangan syekh, serta menjauhkan diri dari segala sesuatu yang dibenci oleh syekhnya.

3. DZIKIR, Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah adalah termasuk tarekat dzikir. Sehingga dzikir menjadi ciri khas yang mesti ada dalam tarekat. Dalam suatu tarekat dzikir dilakukan secara terus-menerus (istiqamah), hal ini dimaksudkan sebagai suatu latihan psikologis (riyadah al-nafs) agar seseorang dapat mengingat Allah di setiap waktu dan kesempatan. Dzikir merupakan makanan spiritual para sufi dan merupakan apresiasi cinta kepada Allah. Sebab orang yang mencintai sesuatu tentunya ia akan banyak menyebut namanya.

Yang dimaksud dzikir dalam tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah adalah aktivitas lidah (lisan) maupun hati (batin) sesuai dengan yang telah dibaiatkan oleh mursyid.

Dalam ajaran Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah terdapat 2 (dua) jenis dzikir yaitu
  1. Dzikir nafi isbat yaitu dzikir kepada Allah dengan menyebut kalimat “lailahaillallah”. Dzikir ini merupakan inti ajaran Tarekat Qadiriyah yang dilafadzkan secara jahr (dengan suara keras). Dzikir nafi isbat pertama kali dibaiatkan kepada Ali ibn Abi Thalib pada malam hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekah ke kota Yasrib (madinah) di saat Ali menggantikan posisi Nabi (menempati tempat tidur dan memakai selimut Nabi). Dengan talqin dzikir inilah Ali mempunyai keberanian dan tawakaal kepada Allah yang luar biasa dalam menghadapi maut. Alasan lain Nabi membaiat Ali dengan dzikir keras adalah karena karakteristik yang dimiliki Ali. Ia seorang yang periang, terbuka, serta suka menentang orang-orang kafir dengan mengucapkan kalimat syahadat dengan suara keras.
  2. Dzikir ismu dzat yaitu dzikir kepada Allah dengan menyebut kalimat “Allah” secara sirr atau khafi (dalam hati). Dzikir ini juga disebut dengan dzikir latifah dan merupakan ciri khas dalam Tarekat Naqsyabandiyah. Sedangkan dzikir ismu dzat dibaiatkan pertama kali oleh Nabi kepada Abu Bakar al-Siddiq, ketika sedang menemani Nabi di Gua Tsur, pada saat berada dalam persembunyiannya dari kejaran para pembunuh Quraisy. Dalam kondisi panik Nabi mengajarkan dzikir ini sekaligus kontemplasi dengan pemusatan bahwa Allah senantiasa menyertainya.
Kedua jenis dzikir ini dibaiatkan sekaligus oleh seorang mursyid pada waktu baiat yang pertama kali. Dapatlah difahami bahwa tarekat adalah cara atau jalan bagaimana seseorang dapat berada sedekat mungkin dengan Tuhan. Diawal munculnya, tarekat hanya sebuah metode bagaimana seseorang dapat mendekatkan diri dengan Allah dan masih belum terikat dengan aturan-aturan yang ketat. Tetapi pada perkembangan berikutnya tarekat mengalami perkembangan menjadi sebuah pranata kerohanian yang mempunyai elemen-elemen pokok yang mesti ada yaitu: mursyid, silsilah, baiat, murid, dan ajaran-ajaran.

Tujuan seseorang mendalami tarekat muncul setelah ia menempuh jalan sufi (tasawuf) melalui penyucian hati (Tasfiyatul Qalb). Pada prakteknya tasawuf merupakan adopsi ketat dari prinsip Islami dengan jalan mengerjakan seluruh perintah wajib dan sunah agar mencapai ridha Allah.

[Ditulis : Kurniawan, alumni Universitas Islam negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Program Studi Sosiologi Agama. Pernah menjadi wartawan di salah satu media cetak nasional dan saat ini tengah menempuh Program Magister]

63 komentar:

coretan gado gado mengatakan...

Islam yang utuh harus mempelajari 3 hal : Ilmu Tauhid (Iman), Ilmu Fiqih (Islam) dan ilmu toriqoh/Ilmu Dzikir (Ihsan). Dengan belajar Toriqoh maka hati kita bisa selalu ingat kepada Allah SWT

Cerita Sufi mengatakan...

semoga kita termasuk berjalan naik ke hadiratnya..amin.
http://ceritasufi00.blogspot.com/

pesantren Al Maghfurullah mengatakan...

semoga kt tetao tawadhu dan istiqomah dlm menjalankan amanah...

ahmad dbijiz mengatakan...

klo boleh silsilah thoriqot qodiriyah wan naqsyabandiyah d posting jg dunk mas!!!!!!!!!!!

Jamal mengatakan...

@ Ahmad Dbijiz : Insya Allah nanti saya posting juga..terima kasih saranya ya...

Jamal mengatakan...

@ Ahmad Dbijiz : Insya Allah nanti saya posting juga..terima kasih saranya ya...

Syamsul Bahri mengatakan...

Alhamdulillah....mendapatkan hidayah dipertemukan dengan guru/Mursyid dari keturunan Ahmad khatib Al Sambasy...nikmatnya menjalani kehidupan dengan menjadi sufi di jaman modern dengan tarekat Qadriyah wa Naqsabandiyah....Amiiiin

ECENK mengatakan...

ALHAMDULILLAH.......ALLAH MASIH MENLINDUNGI KITA SEMUA DENGAN ADANYA THOREKAT YANG MENYEBAR DI SELURUH ALAM JAGAT INI

Rushansyah mengatakan...

Assalamualaikum
Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah , Cabang di kota Medan , dimana ya dan siapa mursyidnya ?
trims

Anonim mengatakan...

Alhamdulillah, saya dari Johor Malaysia. Baru mengenali TQN ... Alhamdulillah. Minta kebenaran untuk memetik apa sahaja dari tulisan Tuan untuk saya muatkan dalam tulisan tulisan saya tujuan memberi penerangan lanjut untuk jemaah TQN di sini....

Denny.saputra mengatakan...

assalamu'alaikum wr wb saya dari kalsel ingin bertanya tadi sudah di sebutkan dalam hadis seperti di atas dalam suatu hadis Rasulullah SAW. sebagai berikut : “Syariat adalah perkataanku (aqwali), tarekat adalah perbuatanku (Ahwali), dan hakikat adalah keadaan batinku (Ahwali)." (anemari h. 123) klo boleh saya minta hadist tersebut di riwayat oleh siapa mohon di jawab... terimaksih

Jamal mengatakan...

@ Syamsul Bahri : Amiiin....

Jamal mengatakan...

@ Aceng : Semoga kita bisa Istiqomah menjalaninya...Amiiiin...

Jamal mengatakan...

@ Rushansyah : Saya carikan Informasi dulu semoga ada Informasi untuk antum segera...terima kasih udah mampir

Jamal mengatakan...

@ Anonim yang di Johor Malaysia : Terima kasih sudah mampir di Blog saya, semoga bermanfa'at....

Jamal mengatakan...

@ Rushansyah : ini Wakil Talqin yang berada di Medan :
KH. ABDUL LATIF DELI
Jl. Kapten Rahmad Budin Ling. 15 Kel. Terjun Kec. Medan Merelan
Tlp. 061 - 77824553

cahyono mengatakan...

hanya dengan mengingat ALLAH SWT hati qt mjd tenang.............

samsudin mengatakan...

Assalamualaikum untuk di indramayu jawa barat Wakil talqinya ada nggak? terimakasih

Jamal mengatakan...

Cahyono : Betul...betul...etul...

Anonim mengatakan...

Numpang tanya nih sy org Cilacap. apa hukum melaksanakan toriqoh sedangkan syariat disepelekan, contoh ada seorang guru toriqoh menunda-nunda buka puasa padahal dah jelas waktu magrib & radio stmpat dah habis baca do'a ba'da adzan ktnya biar sempurna. kemudian beliau mempersoalkan jama'ah yg menggunakan minyak wangi dia tdk suka, padahal ini kan sunnat?

Al-kautsar mengatakan...

bang minta bacaannya _ kl bsa di kirim ke email saya : duwy_s@asia.com / facebook Duwy Hermawan | terimakasih

Zai Ali mengatakan...

Saya ingin bertanya,bagaimana cara nya menghindar syaitan mendekati kita? contohnya yang di hantar manusia yang ingin meganiaya?

Jamal mengatakan...

@ Sdr Anonim, kalo yang antum tanyakan hukumnya, saya tidak menghukumi salah dan benar, tapi kalo menurut saya jelas tidak setuju dan saya pribadi tidak pernah diajarkan oleh guru-guru saya seperti itu.Adapun masalah minyak wangi yang dipersoalkan, saya kira sepanjang tidak menyimpang dari bahanya yang dipakai tidak mengandung Alkohol, saya kira tidak masalah.

Jamal mengatakan...

@ Al-kautsar :Waduuuh....bacaan apa ya ? Kalo baca Al Qur'an pasti Antum sdh bisa dan punya Al Qur'an kan ? baca aja tu yang rajin ya...

Jamal mengatakan...

@ Sdr Zai Ali : Sepengetahuan saya kita ini tidak bisa menghindar dari syaitan, coba kita artikan saja do'a taawuzt “A’UUDZUBILLAHI MINASY SYAITHAANIR RAJIIM" Aku berlindung kepada Allah dari godaan Syaitan yang terkutuk, dari sini saya menyimpulkan bahwa manusia ini untuk selalu dekat dengan Allah sehingga tatkala kita digoda syaitan kita dilindungi Allah SWT, akan tetapi ketika manusia jarang dekat dengan Allah, bagaimana mau menghindar dari syaitan ? Coba jika saudara dekat dengan Jendral misalnya, ada orang yang mau mengganggu anda dan anda telp dengan jendral tsb. kira -kira bagaiman reaksi sang jendral, pasti akan menolong anda, tapi kalo kenal saja tidak, apalagi dekat dengan jendral tsb dan tiba-tiba anda telp minta tolong, ya pasti tidak akan ditanggapi. Semoga bermanfaat jawaban saya, Wassalam

Ca' Husens Aje mengatakan...

Ass... klo boleh tolong posting jg awal masuknya thoriqah an naqsyabandiyah k Kal-Bar... Wss. Sukron katsir....

Anonim mengatakan...

ass.wr
saya berminat untuk belajar tasawuf, akan tetapi memiliki kendala waktu karena bekerja di jakarta. Apakah TQN mensyaratkan adanya pengajian/zikir berjamaah pada waktu-waktu tertentu?ataukah cukup mendapat talqin kemudian dapat diamalkan sendiri2?
mohon info untuk TQN di wilayah Tangerang, tks
wass.wr
Salam,Iwan Setiawan-Tangerang

Anonim mengatakan...

Asslmkm wr.wb...Bisa memberi info adab dan tata cara shalat sunat Halala-hajati gk mas...? klo punya, minta bantuannya kirim ke indrawiwaha@gmail.com..terimakasih sblmnya...Wasslmlkm wr.wb..

Yan mengatakan...

assalamu'alaikum... di Surabaya juga ada thoriqot ini yang di pimpin guru mursyid Syeh Ahmad Usman Al-Ishaqi ra. kemudian turun kepada syeh Ahmad Asrori Al-Ishaqi ra.
apakah juga termasuk termasuk TQN??

Jamal mengatakan...

Ca' Husens Aje : Insya Alloh Cak..

Jamal mengatakan...

Anonim : Kita belajar Toriqoh sebenarnya untuk mempermudah bukan untuk mempersulit dalam beribadah kita, Insya Alloh dimanapun kita berada akan dimudahkan dalam mengingat Alloh SWT, memang ada waktu-waktu tertentu kita biasa kumpul-kumpul dan melakukan pengajian, tapi semua pasti ada jalan kalo kita Qonaah kepada Gusti Alloh

Jamal mengatakan...

Bang Yan : Bener Bang...Tapi silsilahnya terpecah

SMPIT AL-UMAR NGARGOSOKA mengatakan...

mohon maaf, klo wakil talqin di magelang, dmn y?

SMPIT AL-UMAR NGARGOSOKA mengatakan...

mohon maaf, klo wakil talqin di magelang, dmn y?

Jamal mengatakan...

SMPIT AL-UMAR NGARGOSOKA : Untuk wakil Talqin di Magelang dulu Beliau K. Muslih Anwar (Alm)

Pontren Al-Falah Salafiah, Ngetas-Sriwedari
Muntilan, Magelang - Jawa Tengah

Coba akan saya carikan informasi dulu siapa pengganti Beliau di Magelang

Mohon maaf ya kalo agak lama balesnya

Anonim mengatakan...

Ma'af sebelumnya bang jamal, maksudnya silsilah terpecah KH.Akhmad asrori al ishaqi... Gymna? Silsilahnya jelas bang, dari yai asrori di talqin oleh
-syekh muhammad Romli tamimy ra.
-syekh kholil Rejoso ra.
-syekh hasbillah ra.
-syekh ahmad khotib as-shambasy ra. Ma'af bang terpecahnya gymna ya? Dan yai rori termasuk keturunan nabi ke-38,,

inspirational boy mengatakan...

yang paling buat saya salut sama tarekah ini adalah metode suluk. Sekilas mirip iktikaf, yaitu mendekatkan diri dengan Allah. dan menafikkan sebentar urusan duniawi. salut

Anonim mengatakan...

didlm tafsir ibnu katsir dan tafsir al qurtubi juga didlm kitab 6 sunan (bukhari, muslim, ahmad, abu dawud, dll) kok tdk ada penjelasan ttg syariat, tarekat, dan hakikat?

heri setiawan mengatakan...

Lalu bagaimana dengan muammalah?apakah tidak ada dlm tarekat?memang kita tidak boleh bergantung dengan dunia,tapi bukankah kita wajib bermuammalah?


Anonim mengatakan...

kalo mau talqin di tangerang alamatnya di mana yach

abu ghozi fathan almadani mengatakan...

Terimakasih atas informasi yg sangat berharga hingga saya dapat manfaat khususnya mengetahui sejarah syekh abdul karim banten yg merupakan kakek ibunda saya dari tulisan anda jazakumullah khairan

KENT A ROCK mengatakan...

Ass.laikum....
klok boleh Tau jalur Silsilah THoriqoh QWN yg mursyidnya Abah Anom ini, silsilahnya smpai skg ( 05 Sptember 2013 ) sdh brp jlh mursyidnya..trim ata jwb

Wida Octa mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh penulis.
Anonim mengatakan...

toriqoh ilmu bathin ga sembarang orang bisa menjalankannya..hati hati sekarang banyak toriqoh sesat.....!!!!!

Amir mengatakan...

SILSILAH TQN

. Robbul arbaabi wamu'tiqur riqoobi Alloh subhanahu wa Ta'ala
2. Sayyidunaa Jibbriil 'alaihis salaam
3. Sayyidunaa manba-ul 'ilmi wal asroori wa makhzanul faidli wal anwaari wa maljaa-ul ummati wal abroori wamahbathu jibriila fil-laili wan nahaari wa habiibulloohis sattaaril ladzii unzila 'alaihi afdlolul kutubi wal asfaari sayyidunaa Muhammadunil mukhtaari shollaoohu 'alaihi wa 'alaa aalihi wa ash-haabihil akhyaar
4. Sayyidunaa 'Aliy karomalloohu wajhah
5. Sayyiduna Husain rodliyalloohu 'anhu
6. Sayyidunaa Zainal 'Abidin rodliyalloohu 'anhu
7. Sayyidunaa Muhammad Baaqir rodliyalloohu 'anhu
8. Sayyidunaa Ja'far Shodhiq rodliyalloohu 'anhu
9. Sayyidunaa Imam Musa al-Kaadhim rodliyalloohu 'anhu
10. Syekh Abul Hasan 'Ali bin Musa al-Ridho rodliyalloohu 'anhu
11. Syekh Ma'ruuf al-Karkhi rodliyalloohu 'anhu
12. Syekh Sirris Saqothi rodliyalloohu 'anhu
13. syekh Abul Qosim Junaidil Baghdadiy rodliyallohu 'anhu
14. Syekh Abu Bakrin Dilfisy-Syibli rodliyalloohu 'anhu
15. Syekh Abul Fadl-li ao 'Abbdul Waahid at-Tamiimii rodliyalloohu 'anhu
16. Syekh Abdul Faroj at-Thurthuusi rodliyalloohu 'anhu
17. Syekh Abul Hasan Alii bin Yuusuf al- Qirsyi al Hakaarii rodliyalloohu 'anhu
18. Syekh Abuu Sa'iid al Mubarok bin Alii Makhzuumii rodliyalloohu 'anhu
19. syekh 'Abdul Qoodir Al Jaelani Qoddasalloohu sirrohu
20. Syekh 'Abdul 'Aziiz rodliyalloohu 'anhu
21. Syekh Muhammad al-Hattaak rodliyalloohu 'anhu
22. Syekh Syamsuddin rodliyalloohu 'anhu
23. Syekh Syarofudiin rodliyalloohu 'anhu
24. Syekh Nuuruddiin rodliyalloohu 'anhu
25. Syekh Waliyuddiin rodliyalloohu 'anhu
26. Syekh Hisaamuddiin rodliyalloohu 'anhu
27. Syekh Yahya rodliyalloohu 'anhu
28. Syekh Abuu Bakar rodliyalloohu 'anhu
29. Syekh Abdurrohiim rodliyalloohu 'anhu
30. Syekh 'Ustman rodliyalloohu 'anhu
31. Syekh 'Abdul Fattah rodliyalloohu 'anhu
32. Syekh Muhammad Murood rodliyalloohu 'anhu
33. Syekh Syamsuddiin rodliyalloohu 'anhu
34. Syekh Ahmad Khootib Syambaasi rodliyalloohu 'anhu
35. Syekh Tholhah rodliyalloohu 'anhu
36. Syekh Abdulloh Mubarok bin Nur Muhammad rodliyalloohu 'anhu
37. Syekh Ahmad Shohibulwafa Tajul 'Arifin rodliyalloohu 'anhu.


Sumber: Kitab 'Uqudul Jumaan

lelanange jagad mengatakan...

ga apa2 jangan takut ... SESAT.. KALAU SESAT KAN ..ENAK.. ISTIRAHAT TERUS TANYA....

Anonim mengatakan...

Setelah perang badar Nabi Muhammad SAW. Bersabda bahwa perang yg paling besar adalah melawan hawa nafsu.
dimana hawa nafsu letaknya ada pada diri kita sendiri, dia tidak tampak oleh mata sedangkan dia selalu dan terus menerus mengintai kita. Toriqoh memberi solusi bagaimana mengenali gerak gerik nafsu serta cara memeranginya.
Mohon dibetulkan jika saya salah.

Ardi Benghazi mengatakan...

terima kasih, semoga bermanfaat bagi saya.

otrekojom mengatakan...

Assalamualaikum , bagi ikhwan tqn yg berkenan meningkatkan amaliyah dari tabaruk menuju suluk , silahkan ke cibuntu bogor, atau hub sy , 087876400358 / 0857-3265-8736 insyaalloh sy hantar ke ponpesnya.

ZIBAKU CLOTHING DEPT SYSTEM mengatakan...

assalamu'alaikum...salam ukhuwah akhi??...saya ingin mendapat bimbingan tuk memahami dah faham tentang tariqot ini dan bimbingan tuk amalannya sehari"..semoga ilmunya bermanfaat..

Anonim mengatakan...

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه
Dimalang ada thariqoh yang diajarkan guru mursyid kyai. Qosim buchori dan sekarang diterus kan kepada putranya Gus Faris buchori apakah salah satu TQN jg?tolong penjelasan silsilahnya,terimakasih.

Anonim mengatakan...

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Di cirebon masih ada penerus thariqoh ini dari Syaikh Tolhah bin Talabudin, terakhir diketahui diteruskan oleh kyai Dalwi bin sutorejo bertempat di Desa Kalisapu dekat gunung djati, Cirebon.

habib sr mengatakan...

https://drive.google.com/file/d/0B9EKL-RYKW9MdTNzQ3VCRVhmNzQ/edit?usp=sharing

Anonim mengatakan...

assalamualaikum...terima kasih penjelasannya mengenai tarekat yang disebutkan tadi...
ada yang ingin saya tanyakan & mohon penjelasan ttg apa yg dimaksud dengan tuan guru,,,
mohon infonya karena saya ingin mantap melangkah ke tarekat ini...

Anonim mengatakan...

Di jakarta wakil talkid nya di mana? Mohon infonya...makasih

Arul mengatakan...

Wah ternyata seperti itu ya,

aby syifa mengatakan...

الهي انت مقصودي ورضاك مطلوبي اعطني محبتك ومعرفتك

Amko Teean mengatakan...

Saya mau belajar ilmu tarekat atau makrifat. Kalau di Ponorogo ada nga ya guru2 tarekat atau makrifat? Kabariya kalau ada yang tau : 085790406599

Amko Teean mengatakan...

Saya mau belajar ilmu tarekat atau makrifat. Kalau di Ponorogo ada nga ya guru2 tarekat atau makrifat? Kabariya kalau ada yang tau : 085790406599

Dj Jaelani mengatakan...

ass.wr.wb

Dj Jaelani mengatakan...

ass.wr.wb.terimakasih atas panjelasannya ya ikhwan toriqoh,,,,smg allah meridoi amal kita semua dn smg kita bisa mncapai kehadiratnya dgn jalan syari'at tariqot hakikat ma'rifat...salam ta'dhim dr ponpes TQN kaduparasi labuan banten.,,,,,wass.wr.wb.

fero irawan mengatakan...

saya mau tanya..siapa ALLAH itu,darimana ALLAH itu,dimana ALLAH itu..benarkah namanya ALLAH,kenapa semua harus karena ALLAH..apa ALLAH benar2 ada..sedang apa ALLAH sekarang

princess mengatakan...

jazakumullah

Poskan Komentar

Tinggalkan sepatah dua patah kata untuk sarana meneliti tulisanku, kritik, saran ataupun cemoohan juga boleh

JALAN WALI ALLAH © 2008. Design by :Yanku Templates Sponsored by: Tutorial87 Commentcute